Tayangan laman minggu lalu

Minggu, 08 Mei 2011

ASKEP UAP

ASKEP PADA PASIEN UNSTABLE ANGINA
(AMI DAN PADA PASIEN ANGINA PECTORIS STABIL)

DEFINISI
1. Angina pectoris adalah nyeri dada yang ditimbulkan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversible (dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993)
2. Angina Pectoris adalah suatu syndrome khronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktivitas dan segera hilang bila aktivitas berhenti (Prof. Dr. H. M. Syaifullah Noer, 1996)
3. ANGINA Pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum (penuntun Praktis Kardiovaskuler).
4. Infark Miokard Akut (IMA) adalah sebagai nekrosisi myokard yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah akibat sumbatan akut arteri koroner yang sebagian besar disebabkan oleh rupture plak ateroma pada arteri koroner yang kemudian diikuti oleh terjadinya trombosis, vasokontriksi, rekasi inflamasi dan mikroembolisasi distal.

ETIOLOGI
Angina pectoris sebagian besar akibat proses ateroskelrosis (penyempitan pembuluh darah sekitar jantung / koroner). Aterosklerosis adalah timbunan lemak di dalam lubang pembuluh darah, kalau semakin banyak disebut plak.

FAKTOR RESIKO
1. YANG DAPAT DIUBAH (DIMODIFIKASI)
a. Diit
b. Rokok
c. Hypertensi
d. Stress
e. Obesitas
f. Kurang aktifitas
g. Diabetes Mellitus
h. Pemakaian kontrasepsi Oral
2. YANG TIDAK DAPAT DIUBAH
a. usia
b. jenis Kelamin
c. Ras
d. Herediter

FAKTOR PENCETUS
Factor pencetus yang dapat menimbulkan serangan :
1. Emosi
2. Stress
3. Kerja Fisik terlalu berat
4. Banyak Merokok

GEJALA KLINIS

Keluhan nyeri dada sebelah kiri menjalar ke lengan kiri, bahu kiri, punggung kiri, leher dan epigastrium. Nyeri seperti diremas, ditusuk, pasa, seperti ditindih benda berat. Nyeri tak respon terhadap dapat disertai perassan mual, muntah, sesak napas, pusing, keringat dingin, berdebar-debar, sinkope, pasien tampak ketakutan.
Pemeriksaan
 Pemeriksaan dapat normal, dapat ditemui suara gallop. Krepitasi basal merupakan tanda bendungan paru. Takhikardi, kulit pucat, dingin, dan hipotensi ditemukan pada kasus yang berat.

TRIAGE INFARK MIOKARD AKUT (IMA)
1. Nyeri dada
2. rekaman EKG terdapat ST elevasi, T invered, ST depresi, Q patologis.
3. peningkatan enzim CK-MB, troponin T.
2 diantara 3 diatas ada sudah bisa untuk menegakkan diagnosa medis AMI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Elektrokardiografi
Perubahan EKG cukup spesifik. Terdapat ST elevasi, ST depresi, T inverted dan gelombang Q patologis.
2. Peningkatan Enzim CK-MB mencapai puncak setelah 24 jam, kembali normal setelah 2 hari.
Troponin T meningkat dalam darah beberapa jam sampai 14 hari.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan dini pada pasien AMI bertujuan :
a) Menyiapkan RJP bila perlu
b) Meredakan rasa sakit dan kegelisahan
c) Mengobservasi aritmia yang mengancam kehidupan.
d) Menyelamatkam miokardium sebanyak mungkin
e) Bila sudah ada perkiraaan terjadi AMI sebaiknya dirawat di ruang ICCU.
f) Oksigen diperlukan, obat sedative diberikan untuk mengurangi ketakutan. Diazepam 5 mg per oral biasanya efektif.
g) Nyeri dada harus dikendalikan. Bias pakai morfin 5 mg, atau pethidin 25 – 50 mg. pemberian nitrat dapat menolong angina.
h) Pengobatan trombolitik sebagai usaha reperfusi harus sudah dimulai dalam waktu 30 menit sejak pasien mulai diperiksa. Pengobatan trombolitik akan memberikan hasil yang optimal bila diberikan dalam jangka waktu 6 jam pertama setelah serangan.
i) Heparinisasi sebagai antikoagulan mengikuti pemberian trombolitik untuk mencegah reoklusi. Heparin diberikan bolus 5000 unit diteruskan 1000 unit per jam untuk mempertahankan masa pembekuan atau masa tromboplastin parsial.
j) Obat antiplatelet adalahaspirin 160 mg/hari dimulai hari I sekurang-kurangnya 30 hari, untuk mengurangi perluasan infark. Triklopidin 259 mg/hari , obat ini berinteraksi dengan glikoprotein / IIIa sehingga peningkatan fibrinogen oleh platelet terhambat. Obat lain untuk mengurangi luas infark adalah nitrat per oral 5 mg/ 8 jam (3 X 1 tab).
k) Istirahat mutlak untuk mengurangi beban jantung terutama mengurangi kebutuhan oksigen. Bisokodil 2 tablet / hari untuk mencegah konstipasi dan mencegah mengedan saat defekasi.
l) Diet 8 jam pertama pasien dipuasakan.setelah itu diberikan diet cair I, cair II, lunak.
m) Mobilisasi dimulai bila pasien sudah stabil.

PATHWAY AKUT MIOKARD INFRAK


MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. gangguan ras nyaman nyeri dada b.d iskhemi myokard , infark myokard.
2. gangguan pertukakaran gas b. d oedem paru, kongesti pulmonal.
3. penurunan curah jantung b. d gangguan elektrofisiologi jantung.
4. intoleransi aktivitas b. d ketidakseimbangan supali oksigen dengan pemakaian.
5. cemas b.d ancaman kematian, perubahan status peran sosial.
6. resti perdarahan b.d heparinisasi.

INTERVENSI
1. gangguan ras nyaman nyeri dada b.d iskhemi myokard , infark myokard.
b. minimalkan konsumsi oksigen myokard dengan tirah baring.
c. Beri oksigen 2 sampai 4 liter/menit.
d. Mulai atau pertahankan jalur intra vena
e. Beri lingkungan yang nyaman
f. Ajarkan teknik distraksi
g. Kolaborasi medis untuk pemberian obat narkotik atau nitrat.
2. gangguan pertukakaran gas b. d oedem paru, kongesti pulmonal.
a. kaji pernapasan, frekuensi, irama, kedalamannya.
b. Berikan oksigen sesuai pesanan medis.
c. Atur posisi yang memudahkan pertukaran gas.
d. Minimalkan konsumsi oksigen
e. Periksa BGA sesuai pesanan medis.
f. Kolaborasi medis untuk koreksi BGA, keseimbangan asam basa.
g. Monitor intake dan output.
h. Kolaborasi medis untuk pemberian obat (diuretic, aminofilin, dan nitrat).
3. penurunan curah jantung b. d gangguan elektrofisiologi jantung.
Bradiaritmia : denyut jantung < 40 x/menit, atau takhiaritmia : denyut jantung > 180 x/mnt.
a. kaji respon pasien terhadap bradiaritmia atau takhiaritmia dan tanda-tanda serta gejala yang berhubungan dengan menurunnya curah jantung.
b. Berikan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat.
c. Beri dorongan pada pasien untuk batuk sehingga merangsang aktifitas jantung dan meningkatkan curah jantung.
d. Bila pasien mengalami sinkop (pingsan) rendahkan letak posisi kepala untuk meningkatkan sirkulasi serebral.
e. Berikan obat-obatan secara titrasi sesuai pesanan medis (ex : sulfas atropine, allupent, atau adrenalin).
f. Observasi efek sampan g obat.
g. Jelaskan pada pasien / keluarga perlunya pemasangan alat pacu jantung bila terjadi blok total.
h. Bila terjadi takhiaritmia :
a) monitor irama jantung, bila nadi > 180 x/menit mengarah ke SVT AR respon cepat, kaji kualitas nadi.
b) Monitor tekanan darah terhadap adanya hipotensi adanya hipotensi.
c) Berikan obat secara titrasi sesuai program kolaborasi (amiodaron, digoxin, MgSO4).
i. Bila terjadi fibrilasi ventrikel : suatu keadaan yang sangat membahayakan / mengancama jiwa pasien. Sering menimbulkan kematian mendadak.
a) siapkan tindakan kardioversi, jelaskan prosedur kardioversi dengan akurat, tetapi tidak memberikan ancaman.
b) Lakukan tindakan defibrilasi dengan segera, tingkat awal 200 joule (3 – 4 joule/kg BB).
c) Bila tindakan defibrilasi tak respon, lakukan RJP.
d) Lakukan tindakan perekaman EKG tiap hari.
e) Monitor tanda-tanda vital.
4. Intoleransi aktivitas b.d. ketidakseimbangan suplai oksigen dengan pemakaian.
1. pertahankan pasien tirah baring pada fase akut.
2. Bantu kebutuhan aktifitas pasien.
3. pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis.
4. berikan waktu istirahat di antara waktu aktivitas.
5. pertahankan penambahan oksigen,
6. selama aktivitas monitoring gambaran EKG, pernapasan dan keluhan pasien.
5. cemas b.d ancaman kematian, perubahan status peran sosial.
1. jelaskan tentang lingkungan ruang perawatan di iccu, semua prosedur perawatan, harapan dan peralatan yang terpasang di tubuh pasien.
2. libatkan keluarga dalam perawatan.
3. maksimalkan gaya koping yang efektif.
6. resti perdarahan b.d heparinisasi.
1. kaji ada tidaknya perdarahan (perdarahan gusi, hematuri).
2. bila terjadi perdarahan turunkan dosis heparin pada dosis minimal.
3. monitor laboratorium PTT / PTTK / 12 jam.
4. atur dosis heparin sesuai hasil laboratorium PTT / PTTK

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar